Antologi Puisi-Puisi Asril Masbah

2
31 Orang
????????????????????????????????????

Terus  Berlayar

 

Mungkin  memang sudah beginilah adanya

Berlayar tanpa tiba

Bahkan tanpa singgah

Berlabuhpun tidak

 

Dan memang mungkin beginilah adanya

Kayuhku  tanpa happy ending

Mejadi  rengkuh  panjang tanpa episode

Digelanggang  prasangka

Sangka ini sangka itu pada dunia

 

Dan aku baru yakin memang beginilah adanya

Ketetapan Tuhan

Yang mengangkat dan menurunkan  kuasa-Nya

Pada siapa yang dikehendaki-Nya

Memuliakan dan menghinakan pada siapa pula yang dikehendaki-Nya

Mulia pada saat pengangkatan kekuasaan

Dan hina ketika jatuh dari kekuasaan  yang disalahjalankan

 

Mungkin sudah menjadi rahasia Tuhan

Tentang kemuliaan itu bagi diriku

Adalah  pada sebuah pelayaran ini

Sampai  ke suatu hari tiba di dermaga abadi

betemu dengan-Nya

Tanpa hina dan tanpa cela

 

Dan berlayar  inilah amal  jariah  yang  nyata

Yang telah  tertulis dalam kitab perjajian diri

Tersebab pelabuhan dunia bagai maya

Bersandar padanya mumbuat lena

Ketika tiada  amaliah jariah yang menjadi fakta

Dan tanpa  amanah yang mampu  terwujud menjadi nyata pula

Dikala itulah kita berbaur alfa

Hingga ke hina dina

Akan kian panjang menjadi cela

 

Tentang Hutan Jemaja

 

Mengenag Jemaja

Bimbangku menguap pada gunung- gunung

Mengenag Jemaja

Cemasku  terbengkalai pada hutan-hutan

Pada  Gunung Tujuh, Gunung Besuh, Gunung Selasih, Gunung Datuk

Kian tak  bermarwah dengan sejuta pesonanya

Terjamah tangan-tangan para penjarah

Kaum opertunis

 

Tentang hutan yang hendak kalian tebang

Aku masih saja sanksi

Dengan dalih dan kilah apapun itu

Tetap saja akalku meronta-ronta

Bimbang kalian cuma mencurinya

 

Tersebab  ini negeri  kami

Negeri  seribu masaalah

Negeri  yang tidak begitu canggih menanggulangi  segala dampak-dampak

Kekeringan air, ketandusan tanah, erosi, banjir hingga panas menyesakkan dada

 

Entahlah

Setidaknya bagi diriku, bersuara

Untuk terlepas dari dosa-dosa pada Tuhan Sang pencipta

Dan tak mau disebut bersalah  hingga turun temurun ke anak cucu

Menjadi  golongan orang-orang yang membuat  kerusakan di muka bumi

 

Wahai  Tuan – tuan dari negeri  seberang non jauh

Sungguh aku bukan manusia yang alergi dengan investasi asing

Tapi Laut kami begitu luas

Bangunlah seribu pabrik dan olahlah hasilnya

Jika kalian dahaga,  minumlah sepuas-puasnya

Pasti airnya tak akan pernah kering

 

Namun  jika hutan kami yang kalian tebang

Sunguh mati,  kami tak rela dunia akhirat

Mengapa harus hutan?

Bukalah peta

Bukankah kampung kami itu hanya sebesar tahi hidung?

 

 

 

Hearing Ke DPRD 

 

Begitu pelik

Setengah batang rokok  saja

Telah membakar  nuraniku

Dari hari ke hari

Beribu kata menghujam nyata

Menggumpal – gumpal menghantam dada

Lalu terhungal – hungal dilantak sesak

Karna kata tak lagi mampu terangkai menjadi berita

Kifrahku mati seketika

Terhadang   oleh  para opertunis

Dan penganut aliran sinisme

Terkoyak moyak hasrat hatiku kini

 

Pada sebuah kedai kopi tua di sudut kota Tarempa

Secangkir  kopi mix keruh pagi itu

Menambah lara tanpa tara

Anggunnya sang pelayan perawan

Tetap saja  tak  mampu mengurai kusut

Urat-urat  yang bekerdut di keningku

 

Bagai ingin mengunyah –ngunyah  fodium

Melantangkan suara

Yang telah lama kelu

Hingga menyeruak sejuknya  ruangan ber- AC

Dan kursi yang berbusa mahal lagi empuk

Serta meja-meja beku

Para  wakil  rakyat itu

 

Wahai pak ..!

Mengapa pesawat tak jadi hinggap di kampung kami?

Kapan hinggapnya?

Kapan  saudare mare kami  tak lagi terhuyung-huyung

Dilambung  gelombang  menuju  Bukit  Raya

 

Tak  tenang  mati kami

Kami mati  dalam hayalan

Tersebab sudah terlanjur banyak ada judul

Dalam visi dan misi tentang kemajuan dan kesejahteraan

Cepatlah Pak..!

Wujudkan..!

 

 

 

 

 Berita Hari ini dan Lima Tahun  Lalu 

 

Wahai para penguasa

Jangan tebang hutan kami

Berikan kami air, kami ingin minum dengan layak

Kami ingin mandi dengan bersih agar sehat

Kami ingin berwudhu untuk beribadah dengan tenang

Jangan biarkan kami  selalu dalam kegelapan

Jangan biarkan kami  berkali-kali  dalam kepanasan

 

Wahai para penguasa

Hari ini ikan jualan para nelayan kecil harganya murah

Kue jajakan perempuan tua  tak ada yang beli

Cabe naik harganya, telur ayam putus

Bawang merah  mahal , anak bayi  demam malaria,   para istri bermuka kusut

Jangan biarkan kesusuhan membelenggu sepanjang masa di negeri ini

Bagai negeri tanpa bertuan

 

 

Di Rumah Bersama Aqiela

 

Kurang tak banyak bilangan  harinya

Sudah enam bulan aku di rumah

Bisnis macet,  tersebab modal tak cukup kuat

Melawan  kaum Kapitalis

 

Cuma berharap kearifan lokal

Dari para pemangku kebijakan

Belum juga ada

Padahal seribu kali ku tulis nama Anambas

Pada setiap berita-berita

 

Menjadi promosi  tak terbayar

Terhadap potensi daerah ini

 

Masih  saja di rumah

Bidadari kecilku yang mungil itu

Membuat aku melupakan segala ambisi yang pernah ada dibenakku

Aqiela Safea Az- Zahra

Anakku itu tanpa terasa kini menginjak tahun kedua usianya

Lincah gayanya  seketika membuat aku tersentak

Menyadarkan aku pada usiaku sudah tidak begitu muda lagi

Sudah 36 tahun usiaku kini

Tapi belum banyak dapat kuberi arti pada anak-anak dan istriku

Mana lagi ibu ku yang satu-satunya manusia  yang paling aku muliakan

Telah lama tak dapat ku kunjungi

Tersebab jauh nun  di negeri segantang lada

 

Bangsa  ini mengalami defisit, ditambah pula krisis ekonomi nasioanal

Dolar menembus  hampir lima belas ribu rupiah

Lebih parah dari krisis 98

Membuat keaadaan semakin begitu terasa sulit

Istriku  seorang PNS bergolongan rendah yang selama ini selalu tenang

Kini hampir setiap hari mengeluh

Maklumlah istri, yang selalu cemas dengan anak-anak

Tak seperti aku yang selalu tak ambil tau

 

Hem…

Aku coba bersabar saja dengan kondisi ini

Mudahan ada perubahan ekonomi di negeri ini pada tahu depan

Ataukah menempuh pilihan lain jika tak lagi bisa bertahan

Semoga semuanya baik-baik saja

Wallahu Alam Bisawab ….

 

 

Negeri Seribu Azab

 

Di layar TV para pengungsi  berkelahi  dengan  mati

Bom meledak  meluluh lantak

Ada perang yang tak berkesudahan

Teroris tanpa habis

Perampokan dan kekerasan beriringan

 

Pembunuhan menjadi-jadi

Anak bunuh  orang tua

Orang tua bunuh anak

Adak anak diperkosa

Ada anak diculik dan diperjual belikan

Ada anak SD bunuh temannnya

Ada anak SD mati di depan gurunya

Para pelajar saling tawuran

Narkoba meraja lela

Para pejabat  tertangkap  korupsi

Para politisi saling hasyut  dan dengki

 

Ekonomi melambat

Dolar melambung  tinggi

Rupiah kian terpuruk

Perusahaan mem-PHK pekerjanya

Buruh berunjuk rasa

 

Asap kian menyelimuti

Memedihkan mata

Hingga mencabut nyawa

Bagai Neraka

Apa petanda?

 

Oleh : Asril Masbah

 

 

????????????????????????????????????
Asril Masbah (Foto : Dok. Anambas Pos)

Tentang Penulis : 

Asril MasbahBudak  asli Kepulauan Anambas. Lahir di Letung Kecamatan Jemaja pada 3 Maret 1979. Kesehariannya kini aktif di dunia politik sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional. Hoby menulis dan berorganisasi.  Aktif juga di dunia jurnalistik. Mendirikan Surat Kabar Umum Anambas Pos dan Media Online www. anambaspost.com. Dalam waktu dekat menggagas Temu Penulis dan Penyair se- Kepulauan Anambas.

2 KOMENTAR

  1. Assalamu’alaikum ww…

    Wahai paklong,pakngah,pak ude, pak uteh, pak andak, pakcik…perubahan tidak akan ada, kalau bukan dari kita punya keinginan untuk berubah….sadarlah wahai saudareku….begitu susah ayah emakkite membesarkan kite dengan bermain ombak, hujan ribut dan panas terik…dengan sagu embal dan ubi randau kite dibesarkan dari hasil bumi kampung kite yang secuil hingge kite bese jadi macam ni…bangunlah, yok kite berjalan untukkampung kite….jagelah hutan dan gunung-gunung kite jangan untuk kepenting sesa,at mase depat anak cucu kite ter aniaye….sadarlah wahai segenap anak dese…..

  2. Assalamu’alaikum ww…

    Wahai saudare-saudareku, paklong maklong, pakngah makngah,pa ude mak ude, pak uteh mak uteh, pak andak mak andak, mak alang pa alang,pak usu mak usu….karib kerabat handai tolan…perubahan tidak akan terjadi kalau bukan kete yang merubahnye…untuk itu perlu adenye kebersameaan. begitu susahnye emak ayah kite, bermadi ombak, berpanggang mata hari, dengan segenggam sagu emal dan ubi randau kite dibesarkannye…hingge kite jadimacam ni…semuenyehasil bumi dari dese kite yang secuil….hahaha…makenye jangan gunung kite tandus karene kayunye habis di somer, dijarah demi sedap sebento…ingat anak cucu kite nasipnye di tangan kite wai……hahahahahaha

Comments are closed.