Sajak-sajak Kemerdekaan Asril Masbah

0
33 Orang

 

 

Asril Masbah

Merdeka atau Mati

 

Merdeka atau mati 

Adalah semboyan para pejuang kita dulu

Menjadi tekat yang menyatu dalam denyut-denyut nadi

Pembawa gairah, dan terus  bertahan di medan juang kala itu

Walau hanya bambu runcing sebagai senjata paling canggih

 

Merdeka atau mati

Adalah tekad para pejuang kita dulu

Tiga setengah abad melawan angkuhnya penjajah kolonial Belanda

Tiga setengah tahun melawan kekejaman Jepang

Namun berpaling surut walau setapakpun

Mereka berpantang

 

Merdeka atau mati

Adalah doktrin para pejuang kita dulu

Menjadi ideologi diri yang terpatri dalam lubuk hati

Menjujung tinggi marwah negeri Ibu Pertiwi

Tersebab, lebih baik mati di medan pertempuran menemui syahid Fiesabilillah

Dari pada hidup terhina di negeri sendiri diperbudak kaum penjajah laknatullah

 

Merdeka atau mati

Ternyata masih saja menjadi semboyan kita hari ini

Sebagai anak bangsa pribumi

Yang belum merdeka seutuhnya

Dari penjajahan kaum kapitalis

Yang terus merampas setiap jengkal tanah kita

Bagai gurita membelit dan menghisap sum-sum tulang-tulang kita

Mengusai mayoritas hasil kekayaan alam kita

Sementara itu, kemiskinan masih saja menjadi hantu-hantu tidur  kita

Mengganyang-ganyang otak kita

Mengoyak – moyak perasaan kita

Menjadi tanya kita yang terbengakalai tak berjawab

Tentang hari esok kita mau makan apa?

 

Merdeka atau mati

Entah sampai berapa lama

Kata-kata itu masih saja akan dipersembahkan untuk kita

Kaum lemah di negeri ini

Mungkinkah hingga ke hari – hari  mati?

 

 

Tarempa, 7 Agustus 2017

(Sajak –sajak  ini akan dibacakan di Halaman Taman Bermadah, Kamis 17 Agustus 2017 mendatang, dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-72 di Kabupaten Kepulauan Anambas)