Covid -19, Uji Kapasitas Para Pemimpin (Tajuk Redaksi)

0
84
Ilustrasi. Foto : dakwatuna.com

Pandemi Covid – 19 merupakan gelanggang alam terbuka tempat rakyat menyaksikan dengan mata kepala tentang setakat mana bobot kapasitas yang dimiliki oleh para pemimpin di sejagat raya ini. Bagi para pemimpin yang memiliki kapasitas memimpin, alam memperlihatkan kepiawan mereka dalam mengatasi sebuah ujian besar ini. Namun sebaliknya, bagi mereka para pemimpin yang hanya punya kapasitas alakadar, alam ‘menelanjangi’ mereka. Tabir Ketidakmampuan mereka tersibak, dan mereka dipertontonkan secara terbuka di hadapan rakyat dan masyarakatnya sendiri.

Bagi para pemimpin yang memiliki kapasitas cukup, dapat terlihat dalam cara-cara mereka menghadapi pandemi Covid 19 ini. Mereka melakukan aksi cepat tanggap. Segera mengamankan  dan memberikan keselamatan terhadap seluruh rakyat dan masyarakatnya. Mengantisipasi terjadinya penularan dengan melakukan upaya-upaya yang tepat sasaran. Mengambil langkah dan kebijakan yang tepat, akurat, maksimal dan efektif untuk segera mengakhiri atau memutus mata rantai wabah ini. Diantara pemimpin negara yang berhasil mengatasi Covid 19 diantaranya, Taiwan, Korea Selatan, Selandia Baru, Jerman dan Australia. (Negara-negara yang Sukses Perangi Virus Corona, CNBC Indonesia, edisi 17 April 2020).

Namun sebaliknya, bagi mereka para pemimpin yang hanya memiliki kapasitas alakadar, sejak awal munculnya kasus Covid 19 ini, santai-santai saja. Mereka menganggap  wabah ini tidak mungkin sampai ke negara dan daerahnya. Tidak ada upaya segera. Tidak cepat tanggap dan terkesan meremehkan. Mereka hanya menunggu apa yang akan terjadi di kemudian hari, barulah akan melakukan aksi. Bahkan mereka mencoba menutup-nutupinya, walau sudah ada yang mati depan mata dengan alasan tertentu.

Indonesia, India, Amerika, Italia dan Inggris, adalah negara-negara yang dinilai lambat dan dikhawatirkan oleh ilmuan dunia dalam mengatasi Covid 19( Lambat Tangani Covid-19, Indonesia Paling Dikhawatirkan Para Ilmuan Dunia, Makasar Terkini,id, edisi 20 Maret 2020. Partai Kongres Nilai Pemerintah India Lambat Atasi Covid-19, Media Indonesia, edisi 28 Maret 2020.  Survei : Hampir 2/3 Warga Sebut Tramp Lambat Atasi Virus Corona, Kompas.com, edisi 17 April 2020)

Bagi para pemimpin yang memiliki kapasitas, mereka dengan seketika segera melakukan aksi. Berpikir keras untuk menemukan cara-cara yang tepat. Menjalankan prosedur kesehatan. Menyediakan annggaran yang cukup. Melengkapkan peralatan medis dan membuat fasilitas-fasilitas baru yang dibutuhkan dalam penanganan Covid 19. Memberlakukan secara manusiawi terhadap pasien yang diduga suspect dan terkonfirmasi positif Covid 19.

Namun bagi para pemimpin yang tidak memiliki kapasitas yang cukup, ketika pandemi ini tidak bisa dibendung dan ditutup-tutupi lagi, mereka kalangkabut, kebingungan dan panik. Sehingga salah dalam mengambil tindakan dan tidak tepat dalam mengeluarkan keputusan. Menyampaikan informasi yang mengerikan bagi rakyat dan masyarakatnya sendiri. Sehingga tanpa mereka sadari merekalah yang memunculkan sumber kepanikan dan merebak menjadi kepanikan massal secara nasioanal.  ( Publik Panik Karena Isu Corona, Ombusdmen: Informasi dari Pemerintah Belum Komprehensif, Kompas edisi, 4 Maret 2020)

Padahal rakyat mereka, semestinya merekalah yang seharusnya melindunginya. Menjamin kehidupannya yang layak, menjamin kesehatannya dan memberikan hak-hak hidup lainnya. Karena esensi dari keberadaan pemerintahan, adalah sebuah sistem yang dibangun untuk melindungi rakyatnya. Bukan malah melemparkan beban penderitaan kepada rakyat, jika terjadi suatu musibah atau bencana. (Wabah Corona dan Tanggung Jawab Negara, detik,news, edisi 17 Maret 2020).

Bukan begitu saja, para pemimpin yang tidak memiliki kapasitas yang cukup, mereka tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang menyeluruh terhadap kasus yang tengah terjadi itu. Sehingga mereka bingung, ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan mengeluarkan kebijakan. Mereka masih berpikir tentang regulasi, boleh atau tidak boleh. Terlalu panjang proses mengalokasikan anggaran yang akan digunakan. Padahal. kondisi sudah dalam keadaan darurat, rakyat sudah dihadapkan dengan peti mati, dan pintu kubur yang menganga. (Indonesia Darurat Corona, Solidaritas Nasioanal Perlu Digalakkan, Tirto.id, edisi 28 Maret 2020).

Bagi mereka para pemimpin dengan kapasitas yang cukup, mampu melindungi semua rakyatnya, bukan hanya melindungi sekelompok rakyat tertentu saja. Terlepas kelompok itu lebih banyak atau lebih sedikit jumlahnya. Sebab, mendapatkan perlakuan yang berkeadilan, adalah hak rakyat dan menjadi kewajiban bagi para pemimpin untuk memenuhinya. Bagi yang berada di luar, berhasil dipulangkan dengan selamat ke negaranya, atau ke daerahnya masing-masing.  (Hak dan Kewajiban Warga Negera Indoneisa, Kompasiana.com, edisi 3 April 2020).

Mereka mampu memberikan edukasi dan penjelasan yang utuh kepada masyarakat yang berada di tanah air atau berada di daerah. Bahwa kita adalah bersaudara. Bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk hidup dan bertempat tinggal di suatu negara tertentu dan di daerah tertentu. Mereka  menjamin , dengan penerapan protokol kesehatan bagi rakyat atau masyarakatnya yang baru dipulangkan. Bahwa semuanya akan baik-baik saja. (Pemerintah Terbitkan  Protokol Kesehatan Penanganan Covid 19, ksp.go.id, edisi 5 Maret 2020).

Mereka  mampu menyiapkan seluruh infrastruktur, sumber daya dan dan sumber biaya yang diperlukan untuk mengatasinya. Seluruh persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dapat diberikan solusi jalan tengahnya, dengan tidak melukai hati masyarakatnya. Sehingga tidak terjadi gejolak dan konflik horizontal antar sesama masyarakat yang merupakan anak bangsa. (Di Tengah Covid 19, Komnas HAM : Hindari Konflik, Hindari Tindakan Kekerasanm, PikiranRakyat.com, edisi Kamis 7 Mei 2020)

Namun sebaliknya,  bagi mereka para pemimpin yang tidak berkapasitas cukup. Mereka melakukan pembiaran, tidak serius membantu setiap pemasalahan yang tengah dihadapi oleh rakyatnya. Mengutamakan satu kelompok tertentu yang lebih besar, melupakan masyarakat yang kecil yang dalam kesulitan dan kelaparan . Sehingga di tengah-tengah masyarakatnya sendiri, timbul pro dan kontra yang semakin membesar. Rakyat terbelah. Konflik horizontal di tengah-tengah rakyatpun terjadi.  Lagi-lagi rakyat yang harus menjadi tumbal untuk dikorbankan dalam kasus Covid 19.

Khusus untuk di Provinsi Kepri, Bupati Kabupaten Lingga, Alias Wello,  dapat disebut sebagai pemimpin  yang paling sukses mengatasi Covid 19. Pemimpin Bunda Tanah Melayu itu, adalah  pemimpin pertama yang memberlakukan lokcdown dengan segala konsekwensi yang ditanggungnya selaku pemimpin. Dia juga berhasil menyelamatkan ratusan Mahasiswa Lingga, generasi  berilmu yang memang selayaknya dimuliakan sebagai penerus kepemimpinan di masa datang. (Allah Meninggikan Orang-orang Beriman dan Berilmu di Antara Kamu Beberapa Derajat.QS  Al- Mujadalah: 11).

Kondisi itu sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh ratusan Mahasiswa Anambas yang tengah menuntut ilmu di Tanjungpinang. Mereka tertahan, tidak bisa kembali ke rumahnya di Anambas, karena tertutupnya akses transportasi. Sudah sekian lama, sejak Covid 19 melanda, mereka berusaha bertahan hidup dengan makan seadanya. Hingga saat ini, mereka masih terus berikhtiar untuk mencari suaka agar dapat kembali ke tempat asal mereka. Bertemu dan berkumpul dengan orang tua, keluarga dan karib kerabat tercinta. Menjadi harapan dan kerinduan yang mungkin akan terkubur sangat dalam.

Namun semuanya belum berakhir. Covid 19 belum usai. Bagi para pemimpin yang negara atau daerahnya  hingga saat ini belum terbebas dari Covid 19, masih berkesempatan untuk segera  me-review kembali cara berpikir dan bertindak. Agar menemukan cara dan langkah yang tepat, cepat dan efektif untuk segera mengakhiri Covid 19. Menyelamatkan rakyat dan masyarakat tanpa men-dzolimi masyarakat yang lainnya. Semoga kita diberikan kekuatan untuk melalui masa-masa sulit ini. Sembari berdoa, semoga Allah SWT, Tuhan yang maha kuasa memberikan kekuatan, kesehatan, mengangkat wabah ini agar segera sirna dari muka bumi, dan kita pun keluar bersama orang-orang yang diselamatkan oleh Allah SWT seperti selamatnya kaum-kaum terdahulu dari bencana yang menimpa.***