Sajak Kerinduan ( Sastra & Budaya Pekan Ini)

0
272
Asril Masbah

Oleh : Asril Masbah

BATAL PULANG  

Melalui waktu-waktu yang punah tanpa makna

Terjebak di kabutnya rantau bersama Corona

Tanpamu, kini terasa semuanya bagai beban yang menghempas dada

 

Melangkah pergi ke arah masing-masing yang berbeda

Keluar dari zona hijau terakhir untuk bebas mengukir pelangi

Padahal semua itu cuma sebatas teori,

Pemikiran mereka yang mengaku bijaksana di tengah pekik rakyat jelata

“jangan pulang,” katanya

Bukan, sekali lagi bukan pertumpahan darah dalam kisah pilu ini

Hanya air mata yang berlinang tanpa makna dan erangan tanpa luka

Entah untuk apa mereka mengusirmu pergi

Bersama gugurnya dedaunan menghias rumah tua di kota lama ini

Tanpa terasa sekejap lagi bulan Juni, sudah dua purnama tertahan

Tak bisa aku teruskan langkah pulang

Di bangku kosong, rintik hujan dan derai dedaunan menyadarkan aku

Langkah menjadi semakin berat, rindu kian membeku

Bahwa ternyata begitulah dunia, seperti rindu kita

 

MENGENANG DIA 

Dengan huruf – huruf tebal, aku ukir sendiri namamu

Rangkaian kata – kata di layar komputer buram mucul dari papan keyboard yang tertekan teramat dalam hingga menusuk ulu hati

Jiwaku membatin

Hanya lafazd sendu doa yang dapat aku kirimkan dalam suasana Covid yang menghimpit

Berharap kau adalah satu-satunya pemilik kenanganku tentang berdua

Terasa kian jauh kita dipisahkan oleh para penguasa sejagad raya

Namun aku semakin jatuh cinta padamu

Aku suka mengenagmu saat menari-nari di celah -celas angin

Tubuhnmu kuyup dan mendekapku begitu erat

Aku suka mengenangmu bicara, merdu mengalahkan kicauan alam

Bahkan saat kau mulai terdiam, aku semakin jatuh cinta

Rasa damai memukau di setiap rasa penghormatan yang kau berikan padaku

Tidak ada bosan aku melihat kau bermain dengan hujan

Sabarlah adinda, aku pasti akan pulang dan kita akan bercerita lagi tentang indahnya awan.