Sewaktu-waktu Bisa Ambruk dan Makan Korban, Jalan Pelantar Rakyat Ni’amah Perlu Perhatian Serius Pemerintah

0
37
Kondisi Jalan Pelantar Ni'amah, Sedanau Kabupaten Natuna

NATUNA, AnambasPos.com Jalan Pelantar Rakyat Ni’amah yang terletak di Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, kondisinya sudah tidak lagi dapat dilewati oleh warga. Meski demikian, warga sekitar tetap saja menggunakan jalan tersebut sebagai laluan sehari-hari. Padahal sewaktu-waktu bisa saja ambruk dan menimbulkan korban.

Melalui Jaringan Media AnambasPos.com di Natuna, pada Selasa (13 /04/2021) melaporkan bahwa, bagian atas pelantar tampak renggang. Beberapa keping papan lantai hilang. Semakin parah, papan lantai pelantar yang masih ada, juga didapati telah lapuk bahkan hampir roboh.

Dimintai keterangannya terkait hal itu, Lurah Sedanau Mukhrizal mengatakan bahwa  kondisi Jalan Pelantar Ni’amah yang memprihatinkan itu, mengaku sudah mengetahuinya dan telah mengusulkan pembangunan infrastruktur yang menjadi kebutuhan masyarakat itu, dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan pada beberpa waktu lalu.

Kata Mukhrizal usulan tersebut sudah disampaikan sejak tahun 2017 dan 2018 lalu. Pihaknya bahkan sempat meminta bantuan kepada para wakil rakyat Natuna, agar jalan pelantar itu dapat segera diperbaiki, sayangnya terbentur kewenangan.

“Saya juga sambil ngelobi ke dewan-dewan (beberapa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Red) agar  jalan ini diprioritaskan pembangunan revitalisasinya. Karena, jalan ini dibuat dengan menggunakan angaran pemerintah Provinsi Kepri, bukan Pemerintah Kabupaten Natuna. Jadi dari kabupaten mau masukan ragu-ragu,” katanya menjawab Jaringan Media AnambasPos.com di Natuna, Rabu (14/ April. 2021) yang lalu, di Ruang kerjanya.

Keinginan kuat untuk memperbaiki pelantar itu membuat Mukhrizal selaku Lurah Sedanau sempat memploting sebesar Rp 300 juta anggaran kelurahan. Sayangnya, mendapat teguran oleh bagian keuangan, dikarenakan tidak lagi termasuk ke dalam kewenangan yang ada di kelurahan.

Terkecuali lanjut Mukhrizal, Pemerintah Kelurahan Sedanau meminta izin mengambil alih mengelola langsung dan bertangungjawab penuh. Kemudian pemerintah, baik pemerintah Kabupaten Natuna maupun Pemerintah Provinsi Kepri, tidak lagi bertanggungjawab atas jalan tersebut.

“Jadi rumit kerjanya, apa lagi saya masih baru. Begitu mengetahui seperti itu alurnya, saya tidak berani. Makanya tidak jadi difloating anggaran untuk membangun proyek itu,” ungkapnya.

Menurut dia, pada tahun ini pihaknya kembali melobi instansi terkait dan pihak-pihak berkompeten seperti Anggota DPRD Natuna yang berasal dari Daerah Pemilihan (Dapil) Natuna.

“Untuk tahun 2020, anggaran tahun 2021 saya sudah nge-lobi juga. Kalau tidak salah kemarin, dari dewan kita Pak Eki pernah minta tolong prioritaskan pelantar tersebut. Jadi sudah kita usahakan, apakah akan direalisasikan tahun 2021 ini, kita belum tahu pasti,” pungkasnya.

Dia pun kemudian mengakui bahwa kondisi Jalan Pelantar Rakyat Ni’amah tersebut,  memang sudah begitu parah, namun dirinya tak bisa berbuat banyak.

“Saya lihat memang parah juga jalan itu, tapi mau gimana lagi. Sebetulnya memang perlu juga dukungan dari semua pihak termasuk kawan-kawan media agar membantu kami melobi memajukan daerah ini. Seperti masyarakat yang kenal dengan beberapa anggota DPRD Natuna, usahakan juga untuk kemajuan kampung,” pintanya pula.

Sebab kata dia lagi, jika hanya mengandalkan pemerintah kelurahan, pastinya proses realisasi memakan waktu yang sangat lama. Sementara kondisi jalan tersebut menunggu amblas saja.

“Kami menjalankan sesuai aturan yang ada, sudah setiap tahun kami ajukan, tidak tembus-tembus juga. Kalau ngelobi kalau bisa jangan sendiri, biar pembangunan di daerah kita lancar. Jangan terfokus pada pemerintah kelurahan atau kecamatan saja,” imbuhnya.(Red)